Proyek Ruas Jalan Bambakanini – Ngovi Jadi Sorotan, Rp5,9 Miliar Dipertanyakan
- account_circle Team Redaksi
- calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DONGGALA ,Tolisprime.com – Papan informasi proyek berdiri tegak, nama ruas jalan tercantum jelas. Namun ironisnya, pekerjaan fisik yang dinanti warga justru disebut tidak pernah terlihat di lapangan.
Sorotan tajam kini mengarah pada kegiatan Peningkatan Ruas Jalan Tanampulu–Malino dan Bambakanini – Ngovi di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, yang tercantum dilaksanakan oleh CV Palu Mandiri Sejati nomor Kontrak : 600.02-08 / KONT/BM- 03 PJL /DPUPR/XI/2025, pada tahun 2025 dengan nilai anggaran yang disebut mencapai Rp5.976.000.000.
Persoalannya bukan sekadar soal jalan rusak. Warga mempertanyakan mengapa sebuah ruas jalan yang secara resmi tercantum dalam papan informasi proyek justru disebut tidak pernah dikerjakan.
Pengakuan mengejutkan datang dari Penjabat ( Pj ) Kepala Desa Ngovi, Hera. Ia menyebut, sepanjang yang diketahui pihak pemerintah desa, pekerjaan ruas Bambakaini–Ngovi pada tahun 2025 tidak pernah terlihat pelaksanaannya.
“Setahu kami selaku pejabat Desa Ngovi, untuk pekerjaan jalan tahun lalu dari Bambakaini tembus Ngovi itu tidak ada,” terang Hera.
Pernyataan tersebut tentu memunculkan pertanyaan serius. Jika benar pekerjaan tersebut tidak dilaksanakan, lalu ke mana pekerjaan yang tercantum dalam dokumen dan papan informasi proyek itu…?
Apakah ruas tersebut memang masuk dalam paket pekerjaan tetapi tidak dikerjakan..? Ataukah terdapat persoalan lain yang perlu dibuka secara terang-benderang kepada publik..?
Warga: Kami Lewat Setiap Hari, Tidak Ada Pekerjaan
Keterangan serupa disampaikan Ramos, warga Desa Ngovi. Ia mengaku setiap hari melintasi ruas jalan tersebut sehingga mengetahui kondisi lapangan.
Menurutnya, tidak ada aktivitas pekerjaan sebagaimana proyek peningkatan jalan yang seharusnya dilakukan.
“Pekerjaan jalan yang menghubungkan dari Bambakanini ke Desa Ngovi tidak ada. Saya setiap hari lewat di jalan itu,” ungkap Ramos.
Ramos mengatakan, ruas Bambakanini –Ngovi sebenarnya sudah lama menjadi harapan masyarakat. Jalan tersebut dinilai memiliki posisi strategis karena dapat memangkas jarak tempuh masyarakat menuju Donggala maupun Palu.
Selama ini, kata dia, warga harus menempuh perjalanan dengan memutar melalui jalur Pasangkayu sebelum dapat menuju Donggala atau Palu.
“Kalau kita ada urusan di Donggala atau Palu, harus memutar ke Pasangkayu dulu. Jauh sekali memutarnya,” ujarnya.
Karena itu, mencuatnya nama ruas Bambakanini – Ngovi dalam papan proyek 2025 sempat membuat masyarakat berharap akses tersebut akhirnya benar-benar dibuka dan ditingkatkan.
Namun harapan itu berubah menjadi kekecewaan.
“Jangan Hanya Nama Ruasnya yang Ada”
Ramos mengaku merasa seperti mendapat “zonk”. Ia berharap ruas Bambakaini–Ngovi benar-benar dikerjakan, tetapi yang terlihat justru hanya nama ruasnya yang tercantum.
“Saya berharap jalan Bambakanini –Ngovi sudah bisa tembus, tapi ternyata hanya nama ruasnya saja yang tertulis. Pelaksanaannya di lapangan tidak ada,” katanya dengan nada kecewa.
Ia meminta pemerintah dan pihak terkait tidak membiarkan persoalan tersebut berhenti sebatas papan proyek.
Masyarakat, menurutnya, berhak mengetahui secara jelas status pekerjaan, titik pekerjaan, volume pekerjaan, nilai kontrak, sumber anggaran, serta realisasi fisik dari proyek tersebut.
“Kami sangat berharap jalan itu diperbaiki atau dikerjakan. Jangan hanya nama ruasnya ada, tapi kegiatannya tidak ada,” tegas Ramos.
Pertanyaan Besar di Balik Papan Proyek
Pernyataan Pj Kepala Desa Ngovi dan warga tersebut menjadi alarm bagi pihak terkait untuk melakukan pengecekan langsung.
Jika sebuah ruas jalan tercantum dalam paket pekerjaan dengan anggaran miliaran rupiah, namun di lapangan disebut tidak terdapat pekerjaan, maka publik tentu berhak mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Apalagi jalan tersebut menyangkut kepentingan masyarakat dan akses strategis antarwilayah.
Kini bola berada di tangan Dinas PUPR, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), konsultan pengawas, serta aparat pengawasan pemerintah untuk memberikan penjelasan secara terbuka.
Apakah ruas Bambakanini – Ngovi memang termasuk pekerjaan yang dikontrakkan..? Jika iya, berapa volume yang seharusnya dikerjakan dan di mana titik pekerjaannya..?
Jika tidak dikerjakan, mengapa nama ruas tersebut tercantum dalam papan informasi proyek..?
Dan yang paling penting, bagaimana realisasi anggaran proyek tersebut dapat dipertanggungjawabkan..?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak boleh dibiarkan menggantung. Sebab bagi masyarakat Ngovi, yang dibutuhkan bukan sekadar nama ruas di atas papan proyek, melainkan jalan yang benar-benar dibangun dan bisa digunakan.
Publik menunggu jawaban, bukan sekadar papan informasi.***
- Penulis: Team Redaksi





